Wali Allah, Siapakah Itu?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Wali Allah, Siapakah Itu?
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul 'azmi.
apa wali itu?
Kata wali berasal dari akar kata waw, lam, dan ya’ yang berarti dekat. Bentuk jama’ dari wali adalah auliyā’. Dari akar kata inilah kata-kata seperti (walā yalī ) yang berarti dekat dengan, mengikuti, (walla) memiliki arti menguasai, menolong, mencintai, (aulā) memiliki arti yang menguasakan, mempercayakan, berbuat, (walan) berarti menolong, membantu, bersahabat, (tawalla) berarti menetapi, mengurus, menguasai, (istaulā ‘alaih) berarti memiliki, menguasai, (al-aulā) berarti yang paling berhak dan paling layak, (wallā’an) memiliki arti berpaling dari, meninggalkan, dan (aulaa) berarti menunjukkan ancaman dan ultimatum, seperti pada (aula lak) berarti kecelakaan bagimu atau kecelakaan akan mendekatimu maka berhati-hatilah.
Semua kata turunan dari wali menunjukkan makna kedekatan kecuali bila diiringi kata depan secara tersurat dan tersirat seperti walla ‘an dan tawalla ‘an maka makna yang ditunjukkan adalah menjauhi atau berpaling.
Wali memiliki arti ganda (musytarak), yaitu :
BeeHappy
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul 'azmi.
apa wali itu?
Definisi Wali
Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)
Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rosul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8).
Kata wali berasal dari akar kata waw, lam, dan ya’ yang berarti dekat. Bentuk jama’ dari wali adalah auliyā’. Dari akar kata inilah kata-kata seperti (walā yalī ) yang berarti dekat dengan, mengikuti, (walla) memiliki arti menguasai, menolong, mencintai, (aulā) memiliki arti yang menguasakan, mempercayakan, berbuat, (walan) berarti menolong, membantu, bersahabat, (tawalla) berarti menetapi, mengurus, menguasai, (istaulā ‘alaih) berarti memiliki, menguasai, (al-aulā) berarti yang paling berhak dan paling layak, (wallā’an) memiliki arti berpaling dari, meninggalkan, dan (aulaa) berarti menunjukkan ancaman dan ultimatum, seperti pada (aula lak) berarti kecelakaan bagimu atau kecelakaan akan mendekatimu maka berhati-hatilah.
Semua kata turunan dari wali menunjukkan makna kedekatan kecuali bila diiringi kata depan secara tersurat dan tersirat seperti walla ‘an dan tawalla ‘an maka makna yang ditunjukkan adalah menjauhi atau berpaling.
Wali memiliki arti ganda (musytarak), yaitu :
- Pertama, sebagai subyek : orang yang dengan penuh kesadaran dengan sendirinya melakukan taat tanpa melakukan hal-hal yang dibenci atau hal-hal yang penuh kemaksiatan.
- Kedua, sebagai obyek : orang yang memperoleh karunia atau anugerah Allah. Orang khusus yang dipilih oleh Allah.
Wali Allah Adalah yang Beriman Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon hlm. 34 mengatakan: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imron: 31)
Hasan Al Bashri berkata: “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka”.
Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau ShallAllahu ‘alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa sallam.
Maka sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syari’at yang dibebankan padanya. Wallahu a’lam.
BeeHappy
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar